January 29, 2024

Fokus Turunkan Angka Kecelakaan, KAI Bentuk Incident Management System

Incident Management System

Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan aspek yang wajib diimplementasikan dalam operasional perusahaan, terutama yang bergerak di bidang transportasi. Prinsip kehati-hatian dan penekanan pada pentingnya keselamatan dan kesehatan pegawai menjadi pedoman dalam setiap kegiatan operasional Perusahaan. K3 memberikan perlindungan bagi pegawai dengan mencegah terjadinya kecelakaan dan penyakit yang berhubungan dengan pekerjaan. Penerapan K3 juga memberikan perlindungan pada sumber-sumber produksi, yang pada gilirannya dapat meningkatkan efisiensi dan produktivitas perusahaan. Oleh karena itu, KAI secara konsisten menerapkan prinsip K3 sebagai salah satu kunci keberhasilan operasionalnya.

Tidak peduli seberapa andal atau seberapa aman kereta api dirancang dan dioperasikan, insiden akan selalu terjadi, baik itu terkait dengan cuaca, masalah teknis atau manusia. Ada insiden yang tidak signifikan, ada yang berakibat serius, dan bahkan mungkin sangat parah. Semua insiden tersebut harus dikelola secara efektif dan profesional untuk memitigasi eskalasi dampaknya, menyelamatkan manusia, lingkungan, aset, dan memastikan kereta dapat melayani penumpang kembali secepat mungkin. Menurut data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), selama periode 2007—2023 ada 103 kasus kecelakaan kereta api di Indonesia. Frekuensi kejadiannya berkisar antara 1—13 kecelakaan per tahun.

Data kecelakaan KAI 2007-2023-KNKT

Data kecelakaan KAI 2007-2023-KNKT

Menurut data Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), selama periode 2007—2023 ada 103 kasus kecelakaan kereta api di Indonesia. Frekuensi kejadiannya berkisar antara 1—13 kecelakaan per tahun. Berdasarkan hasil investigasi kecelakaan periode 2007—2023, KNKT telah memberi rekomendasi ke berbagai instansi pemerintahan dan perusahaan yang terlibat dalam perkeretaapian nasional.Mayoritas rekomendasinya berupa penguatan pengawasan (60,2%), diikuti penguatan prasarana (18,3%), aturan (15,9%), dan sarana (5,7%).

Meskipun aspek keselamatan sudah dimiliki dan angka kecelakaan yang cukup variatif, tidak dapat diasumsikan bahwa keadaan darurat yang serius atau lebih parah tidak akan terjadi di masa depan. Berdasarkan riwayat insiden di berbagai tempat mengungkapkan bahwa banyak insiden kecil yang dapat dengan mudah berkembang menjadi peristiwa yang mengancam keselamatan manusia jika tidak terdeteksi dan ditangani secara tepat waktu dan efektif. Untuk merespons kejadian seperti itu secara efektif, KAI harus terlibat dalam perencanaan lanjutan yang cermat. Tingkat kesiapsiagaan KAI akan secara langsung mempengaruhi besarnya konsekuensi dari insiden.

2 Fase Dasar Perencanaan Keselamatan Perkeretaapian

Perencanaan keselamatan perkeretaapian terdiri dari dua fase dasar: fase pencegahan dan fase restorasi atau mitigasi.

  1. Fase pencegahan berkaitan dengan pencegahan terjadinya insiden.
  2. Fase mitigasi berkaitan dengan respons setelah insiden terjadi, dan dengan meminimalkan dampaknya atau eskalasi dampaknya.

Pengalaman baru-baru ini dari beberapa operasional perkeretaapian telah menunjukkan perlunya pengembangan manajemen insiden secara formal. Kurangnya perencanaan dan perjanjian formal yang menentukan batas-batas yurisdiksi, rantai komando dan komunikasi, dalam beberapa kasus, menghambat kemampuan untuk merespons secara efektif terhadap insiden. Selain itu, tidak adanya prosedur atau informasi yang jelas telah mengakibatkan kebingungan dalam penanggulangan insiden. Kesulitan di bidang-bidang ini telah mendorong banyak penyelenggara perkeretaapian untuk mengembangkan rencana yang menangani menanggapi insiden secara tepat waktu dan efektif.

Workshop Incident Management System

Untuk mengurangi angka kejadian tersebut, pada 23 Januari 2024 KAI melaksanakan kegiatan “Workshop Incident Management System” bersama Synergy Solusi selaku HSE Expert yang diundang sebagai Narasumber. Acara ini dihadiri oleh seluruh Unit Safety yang ada di perusahaan agar bisa merespon dan mengendalikan keadaan darurat lebih baik dan tepat di masa yang akan datang.

Incident Management System

Incident Management System

Pemaparan Incident Management System oleh Fahmi Munsah Ismail S.T, M.B.A, C.L.A

Pemaparan Incident Management System oleh Fahmi Munsah Ismail S.T, M.B.A, C.L.A

Pada kegiatan tersebut, Pak Sandry Pasambuna selaku Direktur Keselamatan dan Keamanan juga memberikan penyampaian kinerja 2023, apresiasi dan arahannya kepada seluruh Unit Safety yang hadir.

“Untuk mengurangi angka insiden, kita akan segera membuat daerah rawan keselamatan di setiap wilayah masing-masing area operasional KAI berdasarkan arahan dari Direktur Utama sambil terus meningkatkan keterampilan tim dan peninjauan terhadap proses penceahan dan penanganan insiden, yang salah satunya adalah membentuk Incident Management System (IMS)”, ujar beliau dalam sambutannya.

Direktur Keselamatan dan Keamanan PT KAI (Persero) - Ir. Sandry Pasambuna, ST. MT

Direktur Keselamatan dan Keamanan PT KAI (Persero) – Ir. Sandry Pasambuna, ST. MT

Prinsip Manajemen Insiden

Dalam penyampaian materi Incident Management System (IMS) yang disampaikan oleh Bpk. Fahmi Munsah S.T, M.B.A selaku Narasumber, beliau menitikberatkan pada poin prinsip manajemen insiden dan struktur Incident Command System kepada KAI agar penerapan IMS dapat berjalan dan berefek terhadap penurunan angka insiden yang disampaikan seperti gambar berikut:

Prinsip Manajemen Insiden

Prinsip Manajemen Insiden

Struktur Incident Command System

Struktur Incident Command System

Praktik Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K)

Pada sesi kedua, dilakukan praktik Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) yang dipimpin oleh Isma Husni Rakhmawati, S.K.M, C.L.A kepada seluruh Unit Safety. Para Peserta diajarkan Teknik P3K berupa pengoperasian penggunaan tandu pada korban, Teknik CPR dan menggunakan bidai untuk skenario korban fraktur atau patah tulang. Sesi praktik ini diharapkan para Unit Safety semakin lihai dan sergap untuk merespon dan menolong pekerja atau penumpang bila insiden terjadi. 

Praktik Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) oleh Isma Husni Rakhmawati S.K.M, C.L.A

Praktik Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan (P3K) oleh Isma Husni Rakhmawati S.K.M, C.L.A

Sigit Winiarto (VP Safety KAI) & Fahmi Munsah Ismail (CEO Synergy Solusi Group)

Sigit Winiarto (VP Safety KAI) & Fahmi Munsah Ismail (CEO Synergy Solusi Group)

5/5 - (14 votes)
Bagikan halaman ini :

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Post comment

Submit